Buronan yang Merugikan Indonesia

Buronan yang Merugikan Indonesia

Buronan yang Merugikan Indonesia

Buronan yang Merugikan Indonesia – Sudah bukan rahasia umum jika koruptor kelas kakap yang pernah berulah di Indonesia terkenal licin dan sulit ditangkap. Meski kasusnya berhasil diungkap, namun pelakunya justru tak tertangkap. Mereka biasanya telah memiliki perencanaan matang dalam setiap gerak-geriknya. Salah satunya misalkan melarikan diri ke luar negeri.

Seperti koruptor legendaris Edi Tansil misalnya. Tersangka kasus korupsi Rp1,3 triliun di Indonesia itu bahkan telah kabur sejak era Orde Baru Soeharto dan hingga kini belum tertangkap. Tak hanya Eddy Tansil, beberapa dari mereka di bawah ini juga seolah raib ditelan bumi dan masih menjadi buronan yang dicari.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Hukum dan HAM (Kemnkumham) akhirnya bisa mengekstradisi buron kasus pembobolan Bank Negara Indonesia (BNI), Maria Pauline Lumowa. Maria diesktradisi dari Serbia pada Kamis 9 Juli 2020, usai buron selama 17 tahun.

Namun, Indonesia masih punya pekerjaan berat untuk menangkap puluhan buronan lainnya. Bahkan, ada buronan yang belum juga ditangkap sejak tahun 1996.

Samin Tan

Pemilik PT Borneo Lumbung Energy dan Metal, Samin Tan ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap kepada mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Eni Maulani Saragih. Dia menyuap Eni sebesar Rp5 miliar terkait pengurusan terminasi kontrak Perjanjian Karya Pengusaha Pertambangan Batu Bara (PKP2B) PT Asmin Koalindo Tuhup (PT AKT).

Samin Tan ditetapkan menjadi tersangka suap sejak 15 Februari 2019. Pada 6 Mei 2020, Samin Tan masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) KPK. Namun hingga kini, belum diketahui di mana keberadaannya.

Eddy Tansil

Eddy Tansil terbukti menggelapkan uang sebesar US$565 juta (setara Rp1,5 triliun dengan nilai kurs kala itu). Uang itu didapatkannya dari kredit Bapindo melalui Golden Key Group. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memvonis Eddy dengan 20 tahun penjara, denda Rp30 juta, membayar uang pengganti sebesar Rp500 miliar dan membayar kerugian negara Rp1,3 triliun.

Namun pada 3 Mei 1996, Eddy Tansil melarikan diri dari penjara Cipinang, Jakarta Timur, saat harus menjalani hukuman penjara 20 tahun.

Djoko Tjandra

Djoko Soegiarto Tjandra divonis bebas ketika persidangan digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 2008 lalu. Namun, Kejaksaan Agung tidak terima atas vonis itu. Mereka kemudian mengajukan peninjauan kembali (PK) ke Mahkamah Agung.

Hasilnya, Djoko dinyatakan bersalah dalam perkara korupsi hak tagih (cessie) Bank Bali dan dijatuhi vonis dua tahun bui. Hakim agung ketika itu juga memerintahkan agar Djoko membayar denda Rp15 juta, serta uangnya senilai Rp546 miliar di Bank Bali dirampas untuk negara.

Namun, sehari setelah vonis dari MA, Djoko sudah tidak lagi ditemukan di Indonesia. Ia diduga kabur ke Papua Nugini sejak 2009, atau sudah 11 tahun menjadi buronan.