Flamboyan dari Juara Olimpiade, Taufik Hidayat

Flamboyan dari Juara Olimpiade, Taufik Hidayat

Taufik Hidayat, Flamboyan Juara Olimpiade Bulu Tangkis

Taufik Hidayat, Flamboyan Juara Olimpiade Bulu Tangkis – Setiap zamannya, pastinya memiliki legendanya masing-masing. Dan bagi millennials untuk pecinta bulu tangkis Indonesia, tampaknya menjadi golongan yang beruntung karena memiliki kesempatan untuk menyaksikan meroketnya karier dari salah satu tunggal putra terbaik dunia dari Indonesia, Taufik Hidayat.

Baca juga : Premier League Siap Digelar Kembali pada 1 Juni 2020

Pada masanya, rentang 1997-2013 jadi salah satu panggung hebat dari sosok Taufik. Ia mekar di era transisi tunggal putra Indonesia. Kala itu, Tanah Air bersiap melepas sosok legendaris lainnya, sang “Smash 100 Watt“, Hariyanto Arbi, yang di awal millenium baru memang sudah menapaki senjakala kariernya. Dan tepat di akhir 1990-an, muncul kemudian sosok hebat itu: Taufik Hidayat. Berikut karier Taufik Hidayar, si Flamboyan juara olimpiade.

Dobrak Tren Unik di Tunggal Putra Indonesia

Ada tren unik yang muncul di sektor tunggal putra Indonesia. Walau pebulutangkis Indonesia pertama yang meraih gelar prestisius di All England adalah orang kelahiran Jawa Barat, yakni Tan Joe Hok, nyatanya, sangat sedikit sekali ada talenta dari provinsi tersebut yang sanggup mengikuti jejak pria yang juga dikenal dengan nama Hendra Kartanegara ini.

Selepas era Joe Hok, mayoritas legenda bulu tangkis Indonesia di sektor tunggal putra adalah putra daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Rudy Hartono, sang raja All England, yang sukses 8 kali menjuarai turnamen bergengsi itu, di mana 7 di antaranya dilakukan dalam 7 tahun beruntun, adalah pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur.

Setelah era Rudy, muncul sang legenda lain, Liem Swie King. Berbeda dari sang senior, King adalah bocah asli Kudus, yang kala itu ditempa langsung oleh PB Djarum sehingga sosoknya melegenda seperti sekarang. King pensiun pun, tongkat estafet diteruskan oleh juniornya, sesama slot live22 putra daerah Kudus, yakni Hariyanto Arbi. Dan di era yang berbarengan dengan Arbi, ada juga nama Alan Budikusuma, suami dari Susy Susanti, jawara Olimpiade 1992 yang lahir di Surabaya, Jawa Timur.

Baru di era Taufik-lah, Jawa Barat kembali mencuat ke permukaan. Taufik meneruskan estafet dari Tan Joe Hok sebagai talenta dari Tanah Pasundan yang sukses jadi andalan di sektor tunggal putra Indonesia.

Bagian dari Fantastic Four Legendaris

Berkarier di masa Taufik mentas di panggung internasional bukanlah era yang mudah. Taufik ada di puncak karier nama-nama legendaris di dunia bulu tangkis mulai dari Peter Gade, Lee Chong Wei, hingga sang rival abadi, Lin Dan.

Bersama-sama, keempatnya kerap dijuluki Fantastic Four karena pada masanya, mereka berempat inilah yang bergantian mengisi posisi sebagai tunggal putra terbaik dunia alias ranking 1 dunia.

Di antara 3 lawannya tersebut, Taufik hanya memiliki keunggulan head to head dengan Peter Gade. Dari 18 pertemuan antara keduanya, dua pemain ini sama-sama saling mengalahkan satu sama lain namun Taufik unggul dengan angka 10-8.

Lalu Lee Chong Wei dan Lin Dan bisa dibilang adalah dua nemesis di karier Taufik yang kerap jadi batu sandungan. Chong Wei misalnya, di mana legenda Malaysia ini sukses mendominasi Taufik dengan catatan 15-8 dari 23 kali pertemuan antara keduanya di lapangan. Sementara Lin Dan, sang arch rival, juga mampu catatkan rekor menang-kalah 13-4, yang menjadikannya salah satu lawan yang sangat sulit dikalahkan Taufik.

Rajanya Backhand Smash yang Sudah di Akui Oleh Dunia

Selain gelar juara dunia dan medali emas Olimpiade 2004 di Athena, satu yang membekas di ingatan tentang Taufik Hidayat adalah gaya bermainnya. Beberapa pengamat dan pencinta bulu tangkis menyebut gaya bermain Taufik lebih flamboyan. Beberapa kali, kondisi fisiknya memang kerap dikritik karena disebut mudah lelah dan membuatnya hilang fokus di lapangan.

Namun, pada puncak performanya, Taufik was simply un-playable. Backhand smash yang jadi andalannya. Pernah catatkan rekor dengan angka 260 km/jam, yang juga menunjukkan bahwa pukulan backhand ini adalah senjata utamanya yang mematikan. Dalam sebuah wawancara bersama BWF, Taufik menyebut bahwa itu sesuatu yang diberikan Tuhan padanya.

“Itu, gak tahu ya. Itu seperti Tuhan memberikan khusus kepada saya. Saya gak bisa mengajarkan ini (backhand smash). Karena menurut saya mereka-lah (pemain junior) yang harus mempelajari itu dengan cara mereka sendiri sejak masih anak-anak,” ujar Taufik.

“Saya jujur gak tahu soal sebutan backhand smash itu awalnya. Tapi saya bersyukur kemudian orang mengingat itu dan ketika orang ingat itu, mereka ingat saya. Saya bersyukur punya pukulan khas yang tidak semua orang punya. Dan untuk menjadi juara, saya rasa memang kita harus punya ciri khas sendiri. Itu juga sebagai cara agar orang nanti mengingat kita dengan ciri khas itu ketika kita sudah pensiun,” jelas Taufik lagi.

Taufik Hidayat memang benar-benar pemain yang flamboyan, seperti Juan Roman Riquelme di sepak bola. Kamu akan jarang menemukan ia jatuh-bangun mengembalikan bola atau tampil meledak-ledak di lapangan. Sejak bermain di level junior pada periode 1996-1997, Taufik memang sudah terkenal dengan gaya flamboyan. Ia tak eksplosif seperti Lin Dan, juga tidak ulet seperti Lee Chong Wei. Namun, jumping smash dan backhand smash yang jadi ciri khasnya membawanya ke status legenda dunia dan Indonesia.

Sumber : idntimes.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *