Ibu dan Anak Saling Lapor Kasus Warisan

Ibu dan Anak Saling Lapor Kasus Warisan

Ibu dan Anak Saling Lapor Kasus Warisan

Ibu dan Anak Saling Lapor Kasus Warisan – Kasus perebutan harta warisan membuat hubungan keluarga menjadi runyam di Nusa Tenggara Barat (NTB). Ibu dan anak kandung saling lapor ke polisi karena sama-sama merasa dirugikan.

Kasus berawal ketika seorang ibu bernama Kalsum kehilangan suaminya yang meninggal dunia. Dia mendapat warisan berupa tanah seluas 4.000 meter persegi.

Tanah itu lalu dijual oleh anak semata wayangnya yang bernama Mahsun senilai Rp240 Juta. Dari hasil penjualan, Mahsun hanya memberikan sepeda motor senilai Rp15 juta kepada Kalsum, ibunya.

Sepeda motor itu lalu dipinjamkan Mahsun ke sanak saudara yang lain. Dengan kata lain, sepeda motor pemberian Mahsun tidak hanya dipakai oleh Kalsum saja. Tetapi, BPKB masih dipegang Mahsun.

Mahsun tidak terima ketika sepeda motor pemberiannya dipakai sanak saudara lainnya. Kasat Reskrim Polres Lombok Tengah, NTB AKP Priyo Suhartono mengatakan Mahsun meminta kembali sepeda motor tersebut.

Mahsun lalu melaporkan sang ibu, yakni Kalsum ke kepolisian. Namun Polres Lombok Tengah dengan alasan kemanusiaan memilih penyelesaian secara kekeluargaan.

Mengutip sejumlah media, Kalsum mengaku sering dihardik oleh Mahsun. Akan tetapi, Kalsum tetap menganggap Mahsun sebagai anaknya.

Hingga kemudian, Kalsum melaporkan Mahsun ke kepolisian. Pengacara Kalsum, Anton Hariawan mengatakan kliennya tidak diberikan uang hasil penjualan tanah sesuai dengan tatanan ilmu faraid atau pembagian warisan. Mestinya, Kalsum mendapat setengah dari nilai harta suaminya.

“Tapi di mana uang tersebut? Tidak ada, melainkan klien kami hanya diberikan Rp15 juta,” kata Anton, Kamis. Alih-alih memberikan uang ke ibunya dari hasil penjualan tanah sesuai pembagian warisan, Mahsun justru meminjam lagi uang sebesar Rp15 juta. “Uang itu pun diminta kembali oleh Mahsun dengan alasan beli motor,” ucap Anton.

Kalsum, sang ibu, lantas melaporkan Mahsun ke kepolisian terkait dugaan pelanggaran tindak pidana penggelapan harta warisan.

Berkaitan dengan pembagian harta warisan, Anton juga berencana untuk melanjutkan perkara ini ke ranah perdata. “Pekan depan kami akan ajukan gugatan perdata,” kata Anton.

Selain itu, Mahsun juga dilaporkan terkait dugaan pelanggaran Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Itu dilakukan karena Mahsun diduga sempat mencemarkan nama baik di media online.

“Jadi terlapor (Mahsun) membuat fitnah dan mencemarkan nama baik klien kami melalui media online, dengan mengatakan bahwa klien kami menggelapkan sepeda motor, padahal dengan jelas sepeda motor tersebut dibeli klien kami dengan jerih payah dan keringat sendiri,” ujarnya.

Polda Nusa Tenggara Barat (NTB) bakal menerapkan konsep restorative justice dalam menindaklanjuti kasus pembagian warisan itu. Kasus tersebut tidak akan diusut dengan kaca mata hukum saja.

“Nanti kita akan gunakan konsep restorative justice, karena persoalan seperti itu tidak bisa kita lihat hanya dari kaca mata hukum saja tanpa melihat asal-usul permasalahan. Jadi akan kita dudukan bersama,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda NTB Kombes Pol Hari Brata, Kamis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *