Kasus TKI Parti vs Bos Bandara Changi

Kasus TKI Parti vs Bos Bandara Changi

Kasus TKI Parti vs Bos Bandara Changi

Kasus TKI Parti vs Bos Bandara Changi, – Seorang Tenaga Kerja Indonesia ( TKI) asal Nganjuk, Parti Liyani, dilaporkan menang atas Bos Bandara Changi Singapura, Liew Mun Leong. Masalah tersebut sempat menjadi perhatian publik pada 2019, ketika dia dituding mencuri sejumlah barang mewah milik majikannya itu.

Menteri Urusan Hukum dan Dalam Negeri Singapura, K Shanmugam mengakui, “ada yang salah dalam rentetan pemeriksaan kejadian.”

Tentu saja, apa yang akan dilakukan Pemerintah Singapura, belajar dari kasus yang diperjuangkan Parti Liyani, mendapatkan perhatian besar dari masyarakat. Jika desakan publik untuk meningkatkan akuntabilitas dan keadilan bagi sistem peradilan di Singapura gagal dipenuhi, maka akan menguatkan persepsi bahwa kepentingan elite diletakkan di atas kepentingan masyarakat.

Laman http://utowndc.com, memuat pandangan pengamat publik di Singapura berkaitan kasus yang menimpa Parti Liyani.

“Jika kasus ini tidak ditangani secara memuaskan, perjuangan para pembantu rumah tangga, pengacara, aktivis dan juga hakim akan sia-sia,” ucap mantan jurnalis, PN Baji.

Pengadilan Tinggi Singapura pada Jumat, September 2020, menyatakan bahwa Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Parti Liyani tidak terbukti mencuri di rumah bekas majikannya, bos grup Bandara Changi, Singapura. Para proses hukum di pengadilan tingkat pertama, Parti sempat divonis 26 bulan penjara.

1. Kasus yang menimpa Parti Liyani

Kasus hukum menyeret Parti ke meja pengadilan ketika dia bekerja di rumah Liew Mun Leong. Liew adalah pengusaha terkenal yang memimpin sejumlah perusahaan besar di Singapura, termasuk mengelola Bandara Changi.

Saat bekerja di keluarga Liew, mulai tahun 2007, Parti menerima gaji bulanan S$600 atau sekitar Rp6,5 juta dengan nilai tukar saat ini. Keluarga itu menuduh Parti mencuri barang-barang mereka dan melaporkannya ke polisi.

Kasus ini menarik perhatian di negeri kaya dengan penduduk 4,5 juta itu. Dibeberkan di proses pengadilan bahwa Parti dituduh mencuri barang-barang mewah, mulai dari tas bermerek, pemutar DVD, sampai baju. Ketika Parti mulai bekerja di keluarga Liew, dia mengurusi sejumlah anggota keluarga mereka, termasuk anak laki mereka, Karl Liew. Maret 2016, Karl Liew dan keluarganya pindah, tinggal di rumah yang lain.

Dokumen di pengadilan menunjukkan secara detail masa-masa ketika Parti, yang seharusnya hanya bekerja di rumah yang ditinggali oleh Liew Mun Leong, lantas diminta juga untuk membersihkan rumah Karl Liew. Kejadiannya beberapa kali dan ini melanggar aturan ketenagakerjaan di negeri itu. Parti lantas memprotes tindakan ini.

2. Imbas protes karena dipaksa bekerja di luar kontrak

Karena sering diprotes oleh Parti, beberapa bulan kemudian keluarga Liew memecat Parti. Alasan pemecatan, Parti dituduh mencuri. Ketika diberitahu bahwa dirinya dipecat, Parti mengatakan kepada Karl Liew, “ Saya tahu mengapa. Kamu marah karena saya menolak membersihkan toiletmu.”

Parti dikasi waktu dua jam untuk mengemas barang pribadinya dalam sejumlah kotak. Keluarga Liew berjanji mengirimkannya ke alamat Parti di Indonesia. Parti lantas terbang dan kembali ke rumahnya pada hari yang sama saat dipecat.

Sambil berkemas-kemas, Parti mengancam akan melaporkan majikannya ke otoritas Singapura perihal harus membersihkan rumah Karl Liew.

Keluarga Liew mengaku mengecek kotak-kotak barang milik Parti setelah Parti meninggalkan rumah dan berangkat ke Indonesia. Mereka mengklaim bahwa di dalam kota-kotak itu ada barang-barang milik mereka. Liew Mun Leong dan anaknya, Karl, lalu melaporkan Parti ke polisi pada Oktober 2016.

3. Parti dituduh mencuri barang milik majikannya senilai sekitar Rp370 juta

Parti tidak tahu soal majikannya memeriksa kotak-kota tersebut dan melaporkannya ke polisi. Hingga lima pekan kemudian, ketika dia terbang balik ke Singapura untuk mencari pekerjaan baru, aparat setempat menahan dia sesampainya ia mendarat di Singapura.

Parti harus menjalani pemeriksaan hukum dan tidak bisa bekerja. Selama proses ini, dia tinggal di penampungan pekerja migran. Parti menggantungkan nasib dan hidupnya, juga termasuk bantuan keuangan, dari penampungan.

Dalam proses hukumnya, Parti sempat dituduh mencuri bermacam-macam barang milik keluarga Liew, termasuk 115 helai baju, tas bermerek yang mahal, sebuah pemutar DVD, dan jam merek Gerald Genta.

Menurut taksiran polisi, berdasarkan pengakuan Liew, total nilai barang-barang itu S$34 ribu atau sekitar Rp370 juta dengan kurs saat ini.

Dalam persidangan, Parti menolak tuduhan mencuri. Dia mengatakan, barang-barang yang disebutkan dicuri itu adalah miliknya atau barang yang sudah dibuang oleh majikannya dan juga barang yang sejatinya tidak dia kemas ke dalam kotak-kotak itu.