Pelibatan BUMN Karya di Proyek Bukit Algoritma Dinilai Janggal

Pelibatan BUMN Karya di Proyek Bukit Algoritma Dinilai Janggal – Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai ada yang janggal dalam perencanaan pembangunan Silicon Valley ala Indonesia atau Bukit Algoritma. Beberapa di antaranya adalah keterlibatan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya yang bergerak di bidang konstruksi.

Indonesia Akan Bangun Bukit Algoritma Dengan Biaya Rp 18 Triliun - Suara Lampung

INDEF menilai kalau pun melibatkan BUMN, sewajarnya adalah yang di bidang information and communication technology (ICT) atau teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

1. Amarta Karya (Persero) merupakan mitra dari pemerintah untuk pembangunan Bukit Algoritma

Adapun BUMN konstruksi yang dimaksud Huda adalah PT Amarta Karya (Persero) atau AMKA. Merangkum dari asensioexposed.com Alih-alih memilih BUMN di bidang TIK, pencetus proyek Bukit Algoritma, Budiman Sudjatmiko justru memilih AMKA sebagai kontraktor utama proyek tersebut.

Budiman beralasan, keterlibatan BUMN dalam proyek ini adalah sebagai upayanya untuk membuat Bukit Algoritma dapat memberikan pemasukan ke negara lewat investasi senilai Rp18 triliun untuk tiga tahun tahap pertama. Sekadar informasi, PT Amarta Karya (Persero) atau AMKA merupakan BUMN di bidang konstruksi yang telah ada sejak 1960. Cikal bakal AMKA merupakan perusahaan konstruksi baja dengan nama Robbe Linde & Co.

2. Lokasi Bukit Algoritma jauh dari sarana pendidikan tinggi

Selain masalah pemilihan BUMN yang di luar konteks, hal janggal lainnya dalam rencana pembangunan Bukit Algoritma adalah mengenai lokasinya, yakni di Cikidang dan Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat.

Huda menganggap, lokasi tersebut tidak memiliki institusi pendidikan tingkat tinggi di sekitarnya. Padahal, keberadaaan institusi pendidikan tingkat tinggi ini penting bagi Bukit Algoritma. Jika memang ingin di jadikan sebagai sebuah kawasan riset dan pengembangan serta teknologi terkini.

3. Lokasi Bukit Algoritma juga rawan terjadi bencana alam

Menurut https://situsslot24jam.com/ Huda juga menyoroti Sukabumi sebagai lokasi yang rawan bencana. Idealnya, sebuah kawasan yang di rencanakan untuk pengembangan teknologi dan pusat data harus jauh dari segala kemungkinan bencana alam.

“Letak dari Sukabumi sendiri di selatan Jawa yang relatif rawan bencana alam. Kebutuhan data center kuat bisa terkendalam dari daerah rawan bencana,” sambungnya.

Adapun bencana alam yang di maksud adalah gempa bumi lantaran Cikidang dan Cibadak berada dekat jalur sesar Citarik. Sesar Citarik adalah salah satu dari beberapa struktur aktif di Jawa Barat.