Penemuan Vaksin COVID-19 Bukan Pandemik Usai

Penemuan Vaksin COVID-19 Bukan Pandemik Usai

Penemuan Vaksin COVID-19 Bukan Pandemik Usai

Penemuan Vaksin COVID-19 Bukan Pandemik Usai, – Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Amin Soebandrio mengatakan, apabila vaksin COVID-19 sudah kita temukan dan dapat diberikan kepada masyarakat, tapi bukan berarti pandemik telah berakhir.

Amin memcontohkan di kasus ketika vaksin anticacar ditemukan, di mana kala itu butuh waktu agar terbebas dari wabah tersebut selama 200 tahun lamanya.

“Jika sudah ditemukan, bukan berarti pandemik (COVID-19) sudah selesai,” ujarnya dalam diskusi daring, Jumat .

1. Virus COVID-19 masih ada di sekitar

Amin mengungkapkan, sekali pun sudah divaksin, virus COVID-19 masih ada di sekitar kita. Jika manusia sudah kebal virus ini, corona mungkin akan musnah namun membutuhkan waktu yang lama. Di konteks cacar, itu butuh waktu 200 tahun.

“Tapi dengan adanya teknologi, maka tidak sampai 200 tahun akan musnah (virusnya). Yang diperhatikan, meski vaksin ada, tetap jaga protokol kesehatan, jaga jarak, pakai masker,” imbuhnya.

2. Proses Vaksin Merah Putih sudah 50 persen

Dilansir dari http://rebekahdeecams.com, Terkait vaksin sendiri, Amin mengungkapkan saat ini progres pembuatan Vaksin Merah Putih sudah berjalan sekitar 50 persen.

“Saat ini kami tinggal menunggu protein yang akan diekskresikan oleh sel mamalia. Paralel kami juga akan menggunakan sel mamalia mana yang lebih efektif dan efisien. Nantinya akan berlanjut uji klinis pada hewan dua atau tiga bulan lagi,” paparnya.

3. Vaksin Merah Putih diberikan ke industri tahun depan

Amin menambahkan, pihaknya menargetkan dalam waktu lebuh kurang Febuari hingga Maret 2021, Eijkman bisa memberikan vaksin ini ke industri untuk diproduksi.

“Kami berupaya dan berusaha lebih cepat. Nantinya bila ada prosedur apa pun bisa diperpendek, akan kami lakukan termasuk penggunaan peralatan lab yang memungkinkan kita bekerja lebih cepat,” ujarnya.

4. Vaksin akan diujicobakan kepada hewan

Amin juga menerangkan, saat ini pihaknya sedang menunggu protein yang dihasilkan oleh mamalia untuk melihat mana yang hasilnya paling efektif dan efisien.

“Mau tidak mau, kami harus melakukan test kepada hewan yang akan dilakukan 2 sampai 3 bulan untuk ke depan,” ungkapnya.