Perjalanan Karier LeBron James Jadi Raja NBA

Perjalanan Karier LeBron James Jadi Raja NBA

Perjalanan LeBron James

LeBron James Jadi Raja NBA – Jika kita berbicara mengenai pemain basket yang begitu fenomenal di era milenium, nama LeBron James tidak bisa kita ragukan lagi. Sejak pentas perdana di NBA, dirinya memiliki karier yang cemerlang sebagai seorang megabintang didunia basket sampai dengan detik ini.

Baca juga : Cara Mencegah Virus Corona untuk Pengendara Motor

Perjalanan karier LeBron James secara individu memang langsung moncer. Sejak masuk sebagai pemain berstatus draft pada 2003, setahun kemudian dirinya bisa menyabet gelar rookie of the year saat berseragam Cleveland Cavaliers. Hal itu bukan perkara mudah bagi pemain debutan yang usianya masih 20 tahun.

Sejak tahun itu pula, James untuk pertama kali masuk NBA All-Star wilayah timur. Dalam debutnya itu, James berhasil menyumbangkan 13 poin, 8 rebounds, dan 6 assists. Kondisi tersebut berlanjut pada tahun-tahun berikutnya di setiap musim NBA. Hal itu membuat namanya semakin ditasbihkan sebagai calon bintang masa depan di NBA.

LeBron James meraih gelar MVP NBA 2008/2009

Penghargaan paling bergengsi pun akhirnya dapat diraih, LeBron James pada musim 2008/2009. Dia berhasil menjadi pemain terbaik (MVP) NBA pertamanya setelah menjalani enam musim berkarier di liga bola basket paling bergengsi sejagat itu dengan Cleveland Cavaliers.

Pemain yang kini berusia 35 tahun itu memang menunjukkan performa gemilang sepanjang musim bersama Cleveland Cavaliers. Dia bisa membawa timnya kokoh di klasemen Wilayah Timur pada musim reguler NBA edisi tersebut degan kontribusi rata-rata setiap lagi mencetak 28,4 poin, 7,6 rebounds, 7,2 assists, dan akurasi lemparan bebas 78 persen.

Merekam Pidato Kemenangan di SMA

Demi mengapresiasi capaian itu, James bahkan merekam pidato kemenangan tersebut di tempat yang dianggap paling bersejarah baginya, yakni gedung olahraga SMA St. Vincent St. Mary. Sebab, tempat tersebut merupakan cikal-bakal dirinya bisa meraih mimpi seperti sekarang.

“Ini adalah tempat awal saya bermimpi dan meyakini bisa mewujudkannya. Tak ada tempat yang lebih tepat untuk menerima penghargaan ini,” kata James dilansir dalam laporan ESPN dan Associated Press kala itu yang dilansir dari Antara.

“Saya masih 24 tahun dan menerima penghargaan ini, saya tak pernah berpikir bisa terjadi secepat ini. Saya tak pernah bermimpi menjadi MVP, tapi saya akan berbohong jika bilang tak menikmati penghargaan ini. Kerja keras terbayarkan dan mimpi terwujud,” lanjut dia.

Julukan “King James”

Hal itu langsung mengubahnya menjadi bintang anyar NBA dan disejajarkan dengan legenda-legenda yang pernah lahir di kompetisi tersebut. Bahkan, nama James mulai disebut dalam nominasi pemain terbaik sepanjang masa atau G.O.A.T seperti pendahulunya Michael Jordan sampai Kobe Bryant.

Hal itu membuat dirinya mendapatkan julukan “King James”. Hanya saja, label itu dianggap berlebihan oleh beberapa pihak. Bahkan tak jarang pemain yang mengoleksi tiga kali gelar Champion NBA, empat MVP dan 15 kali tampil di NBA All-Star ini tak jarang dihujat di media sosial karena menyandang julukan tersebut.

Masih dikutip dari Antara, pada 2011 kolumnis Washington Post, Mike Wise, mengungkapkan James terlalu arogan jika dirinya sendiri menyebut sebagai “King James”. Padahal, saat itu dirinya belum sekali pun meraih cincin juara NBA dan tengah bebas transfer. Julukan itu dianggap sebagai promosi dagang bagi James untuk bisa mendapat klub baru.

Sukses Meraih Gelar Individu, Belum Bisa Bawa Cleveland Cavaliers Juara

Namun, julukan itu bukan lahir karena narsisme James saja. Berkaca pada masa lalu, nama “King James” awalnya dipakai oleh para pemandu acara nasket di sekolah manengah akhir St. Vincent St. Mary, Ohio. Sebutan itu digunakan untuk memanggil sang pemain memasuki lapangan, sampai akhirnya diikuti oleh media-media mainstream yang meliput NBA.

Terlepas dari catatan fenomenal pribadinya, capaian James kala itu tak terasa lengkap. Sebab, dirinya tak bisa mengantarkan tim yang mengorbitkannya menjadi kampiun sekalipun. Pada ajang NBA musim 2008/2009 bersama Cleveland Cavaliers dirinya hanya bisa mengantarkan timnya ke babak play off saja lantaran kalah 2-4 dari Orlando Magic.

James Mampu Antarkan Miami Heat Back to Back

Hal itu pula yang membuatnya memutuskan untuk hengkang ke Miami Heat pada musim panas 2010. Namun, pada musim tersebut dirinya tak bisa membawa Miami Heat juara, butuh butuh dua musim untuk James membawa tim yang dibelanya meraih gelar juara NBA musim 2011/2012.

Pada musim selanjutnya, James yang disokong oleh Dwyane Wade dan Chris Bosh atau dikenal dengan The Big Three berhasil melakukan back to back dengan membawa Miami Heat kembali jadi juara. Hal itu pula semakin menasbihkan namanya kembali jadi MPV pada musim 2012-2013.

Kembali dan Membawa Cleveland Cavaliers Juara NBA

Puas membawa Miami Heat menjadi juara dua kali, setahun berselang, atau tepatnya pada 2014 James memilih kembali ke klub yang membesarkan namanya, yakni Cleveland Cavaliers. Dia bermimpi membawa timnya itu menjadi juara layaknya saat masih membela Miami Heat.

Akhirnya, James pun bisa mewujudkan mimpinya pada tahun kedua setelah dirinya kembali ke Caveliers. Dai berhasil mengantarkan timnya itu menjadi juara pada musim 2015/2016. Gelar itu juga terasa sangat spesial karena Kota Cleveland untuk pertama kalinya bisa kembali meraih prestasi di bidang olahraga sejak 1964.

Usai membawa kenangan manis itu bersama Cleveland Cavaliers, kini LeBron James berusaha memberikan gelar juga bagi klub yang punya sejarah bagus di NBA, yakni LA Lakers. Jika kembali berhasil menghadirkan prestasi serupa, namanya memang pantas dimasukkan sebagai pemain terbaik sepanjang masa atau G.O.A.T seperti Kobe Bryant.

Sumber : idntimes.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *