Profil dan Kelanjutan Kasus Maria Pauline

Profil dan Kelanjutan Kasus Maria Pauline

Profil dan Kelanjutan Kasus Maria Pauline

Profil dan Kelanjutan Kasus Maria Pauline – Maria Pauline Lumowa, buronan pembobol BNI yang akhirnya ditangkap pemerintah Indonesia, memuncaki Google Trend pada Kamis. Topik yang sama juga menjadi perbincangan para netizen pengguna Twitter dan mendapat respon positif.

“Penangkapan Maria Pauline Lumowa jadi angin segar yang menyehatkan penindakan hukum di Indonesia. Maria Pauline adalah pembobol kas BNI Rp 1,7 triliun yang buron 17 tahun,” tulis akun Twitter @d********.

Netizen lain nyinyir mengucapkan selamat datang ke Indonesia pada Maria Pauline Lumowa setelah buron. Pemerintah selanjutnya diharapkan bisa membawa pulang buronan lain pulang kampung ke Indonesia.

Pelarian buron Maria Pauline Lumowa berakhir. Tersangka kasus pembobolan Bank BNI Rp 1,7 triliun itu akhirnya diekstradisi dari Serbia ke Indonesia.
Delegasi Indonesia pimpinan Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly membawa pulang Maria ke Tanah Air pada Kamis 9 Juli 2020.

Yasonna mengatakan proses ekstradisi Maria karena hubungan baik antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Serbia. Pemerintah berupaya memulangkan Maria meskipun tidak ada perjanjian ekstradisi antara pemerintah Indonesia dengan Serbia.

Maria Pauline Lumowa adalah perempuan kelahiran 27 Juli 1958 di Paleloan, Sulawesi Utara, yang kini berusia 61 tahun. Meski lahir di Indonesia, Maria ternyata sudah menjadi warga negara Belanda sejak 1979 hingga ditangkap.

Dalam keterangannya, Kemenkumham mengatakan sempat mengajukan proses ekstradisi ke Belanda pada tahun 2010 dan 2014. Namun permintaan tersebut ditolak dan pemerintah Belanda memberikan opsi Maria Pauline Lumowa disidang di negara tersebut.

Selama setahun, pemerintah melakukan lobi diam-diam kepada pemerintah Serbia. Hingga akhirnya, Maria diekstradisi ke Tanah Air.

Maria Pauline Lumowa merupakan salah satu tersangka pelaku pembobolan kas bank BNI cabang Kebayoran Baru lewat Letter of Credit (L/C) fiktif. Pada periode Oktober 2002 hingga Juli 2003, Bank BNI mengucurkan pinjaman senilai 136 juta dolar AS dan 56 juta Euro atau sama dengan Rp 1,7 Triliun dengan kurs saat itu kepada PT Gramarindo Group yang dimiliki Maria Pauline Lumowa dan Adrian Waworuntu.

Aksi PT Gramarindo Group diduga mendapat bantuan dari orang dalam karena BNI tetap menyetujui jaminan L/C dari Dubai Bank Kenya Ltd, Rosbank Switzerland, Middle East Bank Kenya Ltd, dan The Wall Street Banking Corp yang bukan merupakan bank korespondensi Bank BNI. Pada Juni 2003, pihak BNI yang curiga dengan transaksi keuangan PT Gramarindo Group mulai melakukan penyelidikan dan mendapati perusahaan tersebut tidak pernah melakukan ekspor.

Dugaan L/C fiktif ini kemudian dilaporkan ke Mabes Polri, namun Maria Pauline Lumowa sudah lebih dahulu terbang ke Singapura pada September 2003 alias sebulan sebelum ditetapkan sebagai tersangka oleh tim khusus yang dibentuk Mabes Polri.

“Beliau adalah pembobol Bank BNI dengan teman-temannya melalui L/C fiktif yang terjadi pada 2003, sebesar Rp 1,2 T itu tahun 2003, mungkin kalau dihitung sekarang kursnya sudah beda, jauh lebih besar. Tersangka yang lain sudah dijatuhi pidana dan sedang menjalani hukuman,” tutup Yasonna.