Sistem Kesehatan Irlandia Terkena Serangan Siber

Sistem Kesehatan Irlandia Terkena Serangan Siber – Serangan siber telah menargetkan sistem layanan kesehatan di Irlandia yang berakibat pada matinya sistem IT. Bahkan dengan serangan siber canggih ini, pelaku meminta dana tebusan besar untuk mengembalikan kembali sistem pelayanan kesehatan di Irlandia.

Kejadian ini menyerupai cyberattack yang terjadi di beberapa negara Eropa lain, seperti Inggris, Finlandia, Prancis. Bahkan kejadian tersebut bersamaan dengan serangan siber pada sistem pipa minyak di AS.

Siapakah peretas yang melumpuhkan bagian dari sistem perawatan kesehatan  Irlandia dengan ransomware?

1. Sistem IT HSE terpaksa dimatikan demi keamanan

Di ketahui dari http://asensioexposed.com/ melalui cuitan dalam Twitternya, pihak HSE mengungkapkan jika serangan ini menyebabkan perusahaan terpaksa mematikan seluruh sistem IT.

Serangan kali ini merupakan tipe ransomware yang menggunakan perangkat lunak yang didesain untuk memblok akses sistem komputer. Kemudian peretas meminta uang tebusan yang umumnya dalam bentuk cryptocurrency demi mengembalikan akses, dikutip dari laman CNBC.

2. Berdampak pada operasional RS Rotunda di Dublin

Selain menyerang sistem kesehatan Irlandia, RS Rotunda yang terletak di Dublin juga terdampak serangan ini. Salah satu rumah sakit ibu dan anak tertua di dunia dan tersibuk di Eropa tersebut terpaksa tidak menerima pasien pada hari itu, kecuali ibu yang sudah hamil 36 minggu ke atas atau memiliki perjanjian mendesak.

Atas insiden ini, HSE meminta maaf terhadap pasien dan khalayak umum serta menjanjikan informasi lebih lanjut setelah sistem kembali tersedia. Meskipun begitu pihak HSE menuturkan jika vaksinasi COVID-19 tidak mengalami gangguan akibat dari peristiwa serangan siber ini.

3. Meningkatnya kasus serangan siber di tengah pandemik

Salah satu tindak kriminal yang paling populer menurut http://tweeria.com/ adalah menguasai server, pencurian data pribadi, lalu kemudian peretas memaksa target untuk membayar sejumlah uang tebusan.

Serangan yang cukup di kenal belakangan ini adalah ransomware yang mulai naik daun sejak tahun 2017 lewat virus WannaCry. Bahkan perusahaan perlindungan siber Group-IB mengatakan apabila serangan ransomware tengah meningkat 150 persen di tahun 2020.